Catatanku: Jalan – jalan ke Bali Menggunakan Travel – Estimasi Biaya Yang Dikeluarkan

Hallo agan-agan semuanya, selamat datang kembali, terima kasih atas waktu dan kunjungannya. Halaman ini adalah postingan saya yang kedua, pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang kisah perjalanan saya ke Kabupaten Badung, Bali, Indonesia. Saya belum pernah membuat planning untuk traveling ke Pulau Bali karena sibuknya aktivitas saya di Yogyakarta (maklum mahasiswa ehehe), namun karena ada panggilan kerja untuk bisnis kecil kecilan (pembuatan website sopir travel dibali).

Akhirnya saya menyempatkan diri untuk pergi ke Pulau Dewata, bertepatan pada saat itu saya sedang liburan semester, whehehe, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Pulau Dewata sebelum saya pulang ke kampung halaman saya di Kalimantan Barat. Sebenarnya sudah cita-cita saya sejak lama ingin menginjakkan kaki ke pulau yang exotic ini, karena sebagian besar tourist yang datang ke Negara Indonesia tujuan pertamanya adalah Pulau Bali, jadi jangan heran jika sebagian tourist disana adalah orang asing/luar negeri.

Bagi anda yang ingin berlibur, bali adalah tempat yang tepat dan pas, apalagi jika anda berlibur bareng keluarga, soulmate, atau istri, hehhe. Perkiraan saya, untuk berlibur ke bali membutuhkan biaya yang besar namun sebenarnya berlibur ke bali tidaklah semahal yang anda bayangkan. Tentu saja tergantung dengan budget yang kita miliki, jika budget minimal/pas-pasan saya punya tips untuk agan-agan semua, sekalian saya menceritakan perjalanan dan rincian biaya saya ke Pulau Bali di artikel ini.

Pada saat itu tepat tanggal 24 bulan 6 (Juli) 2015 saya ditelpon oleh teman saya orang bali, bahwa ada kenalannya ingin membuat website untuk pengiklanan travelnya. Kebetulan pada saat itu saya sedang free dan tidak ada kerjaan jadi saya menerima dengan senang hati tawaran itu 😀 Kurang lebih seminggu saya mengerjakan pekerjaan saya, pada tanggal 31 Juli 2015 saya menghubungi kembali teman saya yang Bali dan mengatakan kalau websitenya sudah selesai saya buat. Ke-esokan harinya tanggal 1 saya mengecek harga penerbangan (tiket pesawat) ke bali, setelah saya priview ternyata harga tiket pesawat dari Yogyakarta (JOG) ke Denpasar (DPS) cukup mahal (mungkin sedang naik harga), yaitu kisaran harga 600K ke-atas, jadi saya memutuskan untuk naik BUS ke Denpasar bali agar perjalanannya terasa dan juga bisa meminimalisir pengeluaran biaya, hehe.

Teman saya menyarankan menumpang BUS Safari Dharma Raya karena lebih nyaman, jadi saya memutuskan naik BUS Safari Dharma Raya, Jika anda berangkat dari Yogyakarta, anda bisa booking tiket BUS di kantor Safari Dharma Saya, di sebelah barat Tugu Yogyakarta atau di Jalan Ringroad Timur (Janti). Berikut ini adalah penampakan Tiket BUS Safari Dharma Raya yang sudah saya booking :

Harga Tiket 275k (Harga lagi naik, harga normal 220k) berangkat tanggal 3/7/2015 10.00 Am.

Tiket sudah dipesan jadi tinggal menunggu waktu keberangkatan. lama perjalanan jika menggunakan BUS adalah 17 JAM perjalanan, BUS 28 Seats kursi. Tiket sudah termasuk biaya makan di perjalanan. Waktu keberangkatan akhirnya tiba, dan saya pun berangkat menuju kantor BUS di Tugu Jogja, BUS berangkat pukul 10 pagi.

Di bawah ini adalah foto saat mobil BUS sudah berangkat lewat jalan Solo (Surakarta) – Ngawi – Banyuwangi, sebelum Kab. Banyuwangi tepatnya di Kecamatan Ketapang, mobil BUS menyebrang ke Gilimanuk Bali dengan menggunakan kapal Ferry (lama penyebrangan hanya 30menit).

Setelah sampai di Kota Denpasar, saya di jemput teman menggunakan mobil Suzuki APV di terminal BUS. Untuk mencapai pusat kota anda juga bisa naik taksi/ojek/bus,dll. Jika ingin mencari hotel atau ke pantai akan lebih baik jika dijemput oleh teman, saudara, atau kerabat lain yang tinggal di bali biar lebih asyik hehe.

Di bawah ini saya akan membagikan daftar pengeluaran saya selama di bali yang dapat anda gunakan untuk menyusun estimasi biaya atau referensi biaya:

Rincian biaya perjalanan dari awal berangkat sampai pulang :

– Tiket BUS Safari Dharma Raya (Sudah termasuk makan di perjalanan) Rp. 275.000
– Uang Penginapan 3 Malam Rp. 150.000 x 3 hari = Rp. 450.000
– Biaya makan 3 hari Rp. 200.000 (Tergantung selera)
– Jalan jalan di pantai kuta, jimbaran, white sand = Rp. 0 alias gratis.
– Kalau makan seafood di pantai jimbaran 1 porsi harga di atas 75k 😀
– Biaya Taksi dari Hotel ke Airport Rp. 25.000
– Tiket pesawat dari Denpasar (DPS) ke Pontianak (PNK) (Lion Air) (Transit Jakarta) Rp. 1.250.000
Total pengeluaran biaya : Rp. 2.200.000

Bagaimana? Tidak terlalu mahal bukan? jika anda mempunyai teman atau keluarga di bali maka lebih baik karena hanya biaya penginapan yang patut diperhitungkan. Untuk mudahnya lebih baik anda menumpang pesawat, tetapi jika anda ingin merasakan berpetualang lebih baik menggunakan BUS. Itulah rincian perjalanan saya dari Yogyakarta ke Pulau Bali lalu tembak ke Kalimantan. Terima kasih telah membaca kisah perjalanan saya yang singkat ini. Semoga anda bisa nyusul juga ya di kemudian hari, jangan lupa bawa camera untuk mengabadikan momen.

Catatanku: Backpacking Ke Bali

Alhamdulillah perjalanan liburan yang udah gw rencanain berbulan-bulan lalu akhirnya berakhir dan sangat meninggalkan bermacam pengalaman yang insya Allah bermanfaat buat gw.
Dari yang hanya rencana omongan saja, pengumpulan modal sampai akhirnya terwujudkan. Semua itu bakalan jadi sesuatu yang gak bakal gw lupain seumur hidup.

Berawal dari rencana backpacker-an ke Bali 6 bulan lalu. Dan gw berusaha buat nabung dengan berbagai cara untuk menembus budget. Beberapa cara gw lakuin dengan menekan beberapa biaya seperti pengharum ruangan dan lain-lain yang gak penting. Sumpah berat banget ngumpulin uang segitu banyak bagi gw, meskipun ada orang lain yang bisa menghabiskannya dalam waktu 1 hari saja.

Awalnya kita cuma berdua melancarkan misi ini, tapi ditengah jalan adik kelas kita alias junior kita di Satya Soedirman dan di SMANSA Bogor yang bernama Ginanjar Hadiwijaya atau biasa disebut KICOL, secara tidak sengaja memutuskan untuk ikut melancarkan misi kita. Si anak bungsu yang udah berhak menjadi mahasiswa di Universitas Diponegoro Semarang ini beralasan mengisi waktu senggangnya sambil menunggu kuliah perdana atau ospek dan bermacam kegiatan kampus.
Jadi, dengan begitu personil menambah satu orang. Kita jadi bertiga. Meskipun ada beberapa kawan yang mengatakan “ingin” ikut dan sebagainya. Tapi pada kenyataanya mereka tidak “bisa” ikut dengan alasan yang bermacam macam. “Bisa” dan “ingin” menjadi 2 buah kata yang bisa sangat mengecoh!

Dan sekarang gw mau cerita tentang perjalanan gw yang cukup panjang ini. 8 hari kurang lebih Yogyakarta – Bali – Lombok – Bali – Yogyakarta. That was nice trip! Sambil menunggu nilai ujian yang akan keluar… Lh

Senin, 28 Juni 2010
————————————————————————————-

Hello, this is Sri Tanjung!
Kita bangun sekitar jam 04.30 waktu itu. Gw bangun paling awal dan langsung mandi terus solat, eh gw bangunin yang lain dulu sebelum itu. Karena jam 07.30 kereta berangkat, jadi kami harus nyampe stasiun jam 07.00 biar gak mepet banget.
Beres mandi dan segala rupa, kita langsung angkat ransel dan berpamitan kepada Jamil Huda (Penjaga Kost), sekalian minta tolong difotoin kita bertiga buat dokumentasi..hehe masih aja centil…
Setelah itu kita langusng cari taksi dan bergegas ke Stasiun Lempuyangan. Ada yang aneh, tulisan di argometer sekitar 18 ribuan, tapi sang sopir sudah menaksir harga tadi sebelum kita naik taksi dengan IDR 25000

Kurang lebih 06.30 kita sampai di Stasiun Lempuyangan yang pagi itu sudah penuh oleh orang-orang dengan bermacam macam kesibukan.
Karena takut gak dapet tempat duduk, kita langsung beli tiket untuk bertiga, IDR 35000 untuk 1 orang. Setelah itu kita langsung bergegas masuk ke rangkaian gerbong kereta yang diberi nama Sri Tanjung, yang telah bertahun tahun merayapi lintasan dari Yogyakarta sampai Banyuwangi, sekitar 600 km. Menurut karcis yang sudah kita beli, Sri Tanjung akan berangkat pukul 07.30 dan akan tiba di banyuwangi pada pukul 21.45. Sayangnya jadwal di karcis itu tidak begitu jujur, kebanyakan menipu karena seperti yang kita ketahui namanya kereta ekonomi itu berhenti di setiap stasiun yang dilewatinya belum lagi ia harus mendahulukan gerbong-gerbong yang “kasta”-nya lebih tinggi. Sehingga bila di-akumulasikan semua tidak sesuai dengan harapan.
Dan Sri Tanjung pun melaju tepat pukul 07.30, sesuai jadwal memang…
Udah paling salah kalo naik kereta ekonomi gak bawa air minum dan cemilan yang banyak, karena perjalanan yang akan kita tempuh itu sungguh sangat jauh ditambah harga makanan dan minuman kalo udah masuk ke kereta bisa 3 kali lipat. Terus bakalan menghabiskan banyak waktu untuk tidur, soalnya emang bosenin banget 15 jam liatin sawah.

Sekitar jam 9 malam ketika Sri Tanjung berhenti di stasiun Jember, ternyata lokomotif rusak dan harus diperbaiki terlebih dahulu. Kurang lebih 1 jam kita berhenti di stasiun Jember. Dan setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali sambil mengerutui ketidaktepatan jadwal kereta. Mau nyampe jam berapa???

#Rekapitulasi Pengeluaran :
– Taksi : 25.000 / 3 = 8.000
– Sri Tanjung : 35.000
– Makan : 2 x 5000 = 10.000

Selasa, 29 Juni 2010
————————————————————————————-

The Breaking Dawn

Sri Tanjung yang mempunyai jam karet sekaret-karetnya itupun akhirnya sampai di Stasiun Banyuwangi Baru pukul 02.30. Berarti kita sudah di dalam kereta selama 19 jam! nice!

Stasiun Banyuwangi Baru
Perut pun terasa lapar jadi kita cari makanan dul di sekitar stasiun dan kebetulan masih ada yang jualan nasi dini hari begini dengan sepeda, langsung saja kita isi perut kita.
Setelah isi perut, kita langsung jalan ke Pelabuhan Ketapang yang jaraknya hanya sekitar 100 m dari stasiun. Awalnya kita mau menumpang truk-truk yang mau menyebrang engan kapal ferry juga, syukur-syukur truk yang langsung ke Denpasar, jadi kita bisa irit ongkos banyak. Tapi melihat kondisi yang kurang memungkinkan, kita putuskan untuk langsung naik kapal ferry aja dengan tiket IDR 6000 sampai Pelabuhan Gilimanuk Bali.

Gw & Kicol di Pelabuhan Ketapang

Terakhir gw naik kapal ferry itu waktu gw masih kecil banget dalam perjalanan ke Medan dengan mobil bersama keluarga besar. Dan sekarang gw naik kapal ferry dengan 2 orang teman gw dan tanpa kendaraan. Butuh waktu sekitar satu jam untuk menyeberangi selat Bali dengan kapal ferry milik pemerintah ini.

Kita duduk di anjungan atas kapal sambil menikmati angin dan bintang-bintang di langit ketika subuh menyapa. Dan zona waktu berganti, karena Bali sudah masuk Waktu Indonesia bagian Tengah, berbeda satu jam dengan WIB. Tapi seterusnya gw akan pakai waktu WIB karena gw males setting jam tangan lagi.

The Happy Bus

Ketika menginjak tanah Bali, gw udah merasakan jantung gw berdetak cepat, menandakan begitu senangnya gw akhirnya gw bisa ke Bali juga karena gw belum pernha sama sekali ke Bali.

Sampai di Pelabuhan Gilimanuk pukul 04.45 dan kita langsung mencari musholla untuk solat subuh. Beres solat subuh, seorang kondektur langsung menwarkan kami untuk menaiki bis ke Terminal Ubung yang tidak lain adalah tujuan kita selanjutnya. Si kondektur yang berbadan besar ini langsung menarik carrier gw dan menunjukkan arah dimana bisnya berada dan mengatakan kalau bisnya akan segera berangkat.
Kita juga langsung bergegas menuju bis, dan pukul 05.30 bis berangkat menuju Terminal Ubung.

Di perjalanan, masih di sekitar pelabuhan gw masih melihat ada mesjid yang berdiri dan akan direnovasikan. Lalu ibu-ibu yang berjilbab masuk ke bis kita. Gw senang melihat ini karena disini muslim adalah minoritas tapi mesjid masih bisa berdiri, itu menandakan kerukunan umat beragama tercipta di daerah ini.

The Happy Bus

Di tengah perjalanan tiba-tiba bis Bahagia yang kita tumpangi tehenti. Ternyata kaca bis sebelah kiri lepas dari frame-nya, dan menurut pak sopir ini berbahaya maka ia menghentikan bisnya. Lalu semua penumpang disuruh turun dari bis karena mau di-oper ke bis lain sebab bis Bahagia tadi sudah tidak layak operasi lagi. Ya! bis yang tidak se-“bahagia” namanya…
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bis Bahagia yang lain datang dan kita menaiki bis tersebut. Dengan ongkos IDR 25.000 kita sampai di Terminal Ubung.

Rumah Sementara

Sampai Terminal Ubung perut kita keroncongan semua. Setelah mondar mandir gak jelas, akhirnya kita memutuskan mengisi perut di Rumah Makan Padang (jangan diartikan rumah yang memakan kota Padang). Mungkin sedikit aneh, jauh-jauh ke Bali kok malah makan di Rumah Makan Padang?
Pertama karena kita gaktau dimana tempat makan yang halal untuk kita karena mayoritas di Bali non-muslim.
Kedua, karena memang perut kita sudah lapar dan hanya rumah makan ini yang sepenglihatan kita emungkinkan untuk kita singgahi, sekalian tanya-tanya arah ke Kuta karena itu tujuan kita berikutnya.
Setelah perut terisi penuh, kita nyari ATM terdekat karena duit kita sudah menipis akibat harga masakan Padang yang mahal tadi. Kita sok-sokan jalan nyari ATM sambil nanya-nanya. Dan akhirnya kita memutuskan untuk naik taksi ke Kuta, soalnya jarang angkot ke Kuta, dan biasanya harus carter sedangkan kita cuma bertiga.
Kita menaiki taksi setelah tawar menawar dan mendapatkan harga IDR 80.000 sampai Jl.Poppies II (Kuta). Berhenti di ATM sebentar untuk ambil persediaan uang dan langsung meluncur ke Kuta.

Saat memasuki Kuta, yang namanya bule-ule sudah bertebaran dimana-mana, apalagi sudah masuk Jl. Legian. Udah kayak bukan di negeri sendiri aja. Tapi gakpapa lah sedikit cuci mata…segerrrr…hahahaha
Didekat monumen Bom Bali kita turun dari taksi dan langsung masuk ke Jl. Poppies II untuk nyari penginepan. Setelah mencari-cari akhirnya kita dapet penginepan dengan nama Bali Dwipa. Setelah menawar-nawar dengan yang empunya penginepan alhamdulillah kita dapet 1 kamar double-bed untuk bertiga selama 3 malam dengan harga IDR 135.000. Sekitar jam 12.30 kita check in dan langsung mandi, solat dan beristirahat. Huuuuaaaaahhhh….

Wayne Bryan

Jam 15.30, kita gak mau menyia-nyiakan waktu selama di Bali jadi kita lagsung jalan-jalan sore ke Pantai Kuta berharap bisa menikmati sunset yang indah sore ini. Dari penginepan ke pantai Kuta tinggal jalan sekitar 10 menit atau sekitar berjarak 100 meter.
Si Kicol yang janji bakal ngajak bule ngobrol udah semanget dandan aja. Malah dia janji kalo ada yang pake BB, mau dia minta juga pin-nya. Kita liat aja nanti…
Sampai di pantai Kuta, teryata ramai sekali dan cukup keren pantainya. Yang pasti, disini lebih banyak bule-nya daripada orang lokal. Dan mereka juga lagi menunggu matahri terbenam sambil berbaring di atas pasir. Sumpah ini mah menggoda iman banget berada di pantai ini. sejauh mata memandang itu isinya bikini-bikini semua. Mereka udah ngerasa kayak dirumah sendiri aja mondar mandir pake bra sama celana dalem doang. Ck ck ck… *geleng-geleng* namanya juga pantai…
Kita bertiga jalan menyusuri pantai dan menunggu pemuktian dari janji si Kicol yang katanya mau ngajak ngobrol bule. Si Philip seperti biasa juru kamera yang siap mengabadikan momen-momen yang harus diabadikan.
Sekitar 15 menit kita bolak alik susurin pantai dari tadi si Kicol belum buktiin juga itu omongannya, dan akhirnya saat kita berpapasan dengan 2 orang bule yang cantik (tentu saja cewek), si Kicol yang mungkin sudah tidak tahan gw tagih-tahih janjinya akhirnya menyapa 2 orang bule tersebut.

“Hello miss, can i take a photo with you?”, dengan gaya seperti memegang kamera digital si Kicol menyapa 2 bule itu.

“Ya! of course”, bule itu langsung meng-iyakan dan berpose siap untuk difoto.
“Cky, sini ayo kita foto!”, si Kicol ngajak gw yang lagi pura-pura gak tau.. :p

“Ayo, Lip fotoin!”, dengan tidak sopannya si Kicol nyuruh Philip.

Are we like a family :p ?
Dan jepreeet! jadilah foto kami ber-empat seperti 2 pasang suami-istri yang sedang berlibur di Bali…^^

Capek jalan-jalan, kita bertiga duduk di pasir sambil menunggu matahair yang sudah mulai jatuh ke dalam cakrawala. Sambil foto-foto dan ngobrol serta lihat pemandangan yang indah-indah… hehe :p.
Lagi ngeliatin sekitar, gw tertuju pada seorang bule yang cukup berumur dan sedang duduk sendiri dengan ranselnya sambil minum sebotol Coca Cola dengan pakaian kaos belel dan celana pendek.
Tiba-tiba gw berkeinginan untuk ngajak ngobrol itu bule karena sepertinya orangnya asik.
Tanpa gw sadari gw langsung nyamperin itu bule dan menyapanya.

“Hello!”, sapa gw sambil mengulurkan tangan. Dan dia menyambutnya agak ragu.

“My name is Arcky, and what is your name?”, dengan bahasa Inggris sok-sok an gw memperkenalkan diri.

Dengan logat yang tegas dan bulat, “Wayne Bryan”

“Where do you come from, sir?”, tanya gw.

“There…”, sambil menunjuk ke seberang laut Bryan menjawab.

“Australia?”

“Ya. Umm..actually i was born in England but since 40 years ago I moved to Australia and lived there till now.”

pantesan ngomongnya rada-rada bulet gitu logatnya, British abis. Dan gw lanjut ngobrol sama dia, orangnya sesuai dengan dugaan gw, asik diajak ngobrol. Ternyata dia itu juga Traveler, sob! backpacker juga pula. Dia udah berkunjung ke kurang lebih 55 negara kalo gak salah. Umurnya sekitar 54 tahun. Dan yang bikin gw malu, dia ternyata lebih tau tentang Bali & Lombok daripada gw (siapa yang orang Indonesia nih?). Dia cerita tentang pengalaman-pengalaman perjalanannya dan dia berkomentar tentang perubahan Bali dulu dan sekarang. Dia bilang pembangunan gedung – gedung di sekitar pantai inilah yang kurang dia suka. Dengan membangun bangunan maka lahan hijau akan berkurang dan ini akan berdampak pada isu global yang lagi marak sekarang ini yaitu global warming. Sependapat gw sama ini orang.
Si Kicol dan Philip nyamperin kita berdua yang lagi ngobrol. Gw kenalin mereka berdua ke Bryan. Bryan mengerti kalo bahasa Inggris kita sekenanya, makanya dia mencoba menyampaikan segala sesuatunya dengan semudah-mudahnya agar kita mengerti, terkadang ia menggunakan isyarat tangan dan terkadang juga itu membuat kita tertawa. Saat dia menggambarkan kalau dia tidak suka dengan kota Jakarta yang semrawut dengan menunjuk jempolnya ke bawah sambil mulutnya meniru orang kentut, “Brrrrrrrtttttt….”.

Sayang sunset yang kurang bagus kala itu karena tertutup awan, tapi tidak mengapa karena gw cukup senang karena bisa ngobrol dengan orang hebat seperti Mr. Sepatu (julukan Wayne Bryan). Sayang gw lupa untuk ngambil foto dengan orang ini.
Dan setelah menanyakan dimana tempat makan yang murah yang bisa kita dapatkan di daerah Poppies kepada Wayne Bryan karena kita sudah lapar, kita langsung menuju tempat makan tersebut. Sebenernya kalo di Jogja kita sudah bisa dapat nasi telor 2 piring dengan uang 10 ribu, bahkan dengan 2 gelas es teh manis. Tapi disini hanya dapet sepiring nasi goreng. Itu sudah makanan termurah yang halal yang bisa kita temuin di Poppies.
Karena perut sudah mulai mengonggong, langsung kita lahap itu nasi goreng tepat pukul 19.00.

Beres makan, kita langsung pulang untuk istirahat dan mandi. Jam 19.30 kita sampe losmen dan lansung mandi, sholat dan langsung istirahat.

#Rekapitulasi Pengeluaran :
– Ferry (Ketapang – Gilimanuk) : 6.000
– Bis Bahagia (Gilimanuk – T.Ubung) : 25.000
– Taksi (T.Ubung – Kuta) : 80.000 / 3 = 26.000
– Makan : 10.000 + 15.000 = 25.000

Rabu, 30 Jui 2010
————————————————————————————-

The Long Day

Saking pulesnya tidur, kita bangun kesiangan dan gak sholat subuh (maafkan hamba ya Allah..). Jam 07.15 kita baru bangun danlansung sarapan ke bawah. Kita dapat sarapan gratis dari losmen-nya (lumayan ngirit duit makan). 07.20 kita sarapan Banana Pancake yang gak beda jauh sama pisang goreng, cuma beda wujudnya dan cara makannya aja, hahaha…

Philip, Kurt dan Gw
Lagi sarapan, ada bule yang baru check in sendirian, dan dia langsung nyamperin kita untuk sarapan bareng sambil nunggu kamarnya diberesin. Namanya Kurt (bukan Cobain), dia seorang bartender di Australia dan sekarang lagi berlibur. Kayaknya ini orang meskipun dengan tas ransel dan losmen yang murah gini, tapi orangnya rada berfoya-foya. Maksud gw gak seperti si Wayne Bryan yg kemaren kita temuin, yang low cost traveller abis. Agak kurang asik ngobrol sama doi. Yaudah karena keburu siang, kita tinggalin aja tuh bule.
Beres sarapan kita langsung bergegas mandi karena kita gakmau buang-buang waktu, perjalanan jauh hari ini.

Tepat jam 09.00 kita sudah siap dan keluar losmen untuk cari penyewaan motor. Sebenernya losmen ini nyewain motor tapi harganya kurang sreg, jadi kita memutuskan untuk mencari di sekitar jalan Legian, sekalian jalan-jalan.
Philip punya firasat kalo ada tempat sewa motor yang lebih murah daripada di Jl. Legian. Karena dia pikir di Jl. Legian adalah kawasan komersil yang isinya wisatawan semua. Maka dia ngajak kita muter ke Jl. Majapahit dan ternyata…sama sekali tidak ada tempat sewa motor di situ. Kita susuri Jl. Majapahit sampe akhirnya kita ketemu Jl. Legian lagi dan karena sudah terlalu siang, kita putuskan untuk menyewa motor sekenanya. 10.45 kita menemukan tempat penyewaan motor

Namanya bapak Gusti, dia yang meyewakan 2 motor Mio kepada kita. Tawar boleh tawar akhirnya kita dapet sewa motor 45 ribu sehari/motor, dan kita langsung ambil sewa 3 hari. Bapaknya bilang kalo kita oleh balikin nih motor hari Jumat sorenya. Gak pake banyak cincong karena udah siang, langsung kita bayar cash.

Setelah administrasi selesai, kita langsung cabut dan tujuan kita awalnya adalah Kintamani yang ada di utara sana, sedangkan kita berada di Kuta yaiti selatan Pulau Bali. Kira2 nyampe gak yaa??
Motor melaju dan karena kita melewati plang Sanur Beach di perjalanan kita, kita memutuskan untuk mampir kesana sebentar hanya untuk mengambil foto (takut gak keburu kesini lagi gitu…). Jam 11.00 kita sampe Pantai Sanur yang cukup keren dan anyak orang berselancar serta berjemur. Kita foto-foto sebentar dan lagsung memasang tripod untuk mengambil foto kita bertiga. Niatnya setiap tempat yang kita kunjungi, kita foto bertiga gitu…

@ Sanur beach

Beres di pantai Sanur, kita langsung melanjutkan perjalan. Motor Mio kembali melaju menyusuri By pass Ngurah Rai. Gw dibonceng Philip dan Kicol nyupir sendiri. Jam 12.00 kita mampir dulu di Pasar Seni Sukowati karena sejalur dengan tujuan kita. Banana Pancake sudah tidak cukup menahan lapar kita, kita makan tahu kupat di pinggir jalan. Ternyata tidak semurah yang kita kira…huhuhu
Beres makan kita langsung belaja cari oleh-oleh di Pasar Sukowati yang terkenal ini. Karena dibatasi biaya dan waktu, gak pake lama gw nawar nawar dan langsung beli oleh2 buat orang rumah (mohon maaf yang lain, karena terbatasnya biaya saya tidak memebelikan kalian oleh2. harap maklum yah..^^).

Tepat Pukul 13.00 kita menyudahi berbelanja di Pasar Sukowati ini dan langsung melanjutkan perjalanan yang tertunda ke Kintamani. Kembali Motor Mio melaju…
Di tengah perjalanan kita melihat plang ke arah musium Antonio Blanco, karena tertarik dan searah dengan Ubud, sekalian mampir kita berbelok kesana.

Sayang banget gakbisa masuk T_T
Memasuki Ubud ternyata disini juga rame bulenya. Jalannya menggunakan paving blok dan gw suka banget, jadi terkesan seperti diluar negeri gitu. Disini juga udaranya adem dan kiri kanan jalan kebanyakan toko kerajinan dan cafe cafe tempat bule pada mangkal.
Sampai di Musium Antonio Blanco, ternyata harga tiketnya 30 ribuan, kita gak berani masuk karena terlalu mahal tiketnya dan tidak mau menghabiskan waktu. Akhirnya kita cuma foto-foto aja di musium Antonio Blanco. Dan gw menemukan alasan kenapa Antonio Blanco betah berada disini sampe dia bikin musium segala. Karena alam disini masih asli dan sangat indah. Sepi, jauh dari kebisingan, beda banget sama pantai Kuta yang kemarin gw kujungi.

Beres dari Musium Antonio Blanco yang sayang sekali gw belum bisa menikmati hasil karyanya, kita jalan jalan sebentar menyusuri jalanan di Ubud.Sesekali mengambil foto untuk kenang-kenangan. Gak lama disitu karena sudah mulai sore, kita langsung cabut ke arah Kintamani, tujuan awal kita. Motor Mio melaju kencang.
Dan kita sudah mulai memasuki pedesaan yang begitu asri, sawah-sawah dikiri dan kanan jalan. Tapi sayangnya gerimis tiba-tiba datang, dan tidak lama semakin lebat semakin membasahi kita. Kita langsung pakai jas hujan, dan memutuskan untuk kembali pulang saja karena kalaupun dipaksakan ke Kintamani tidak akan bagus kalo hujan begini. Kita kembali pulang.

Di tengah perjalanan kita menyempatkan ndulu berbelok ke daerah yang namanya Tegal Lalang. Disitu yang katanya ada banyak sawah-sawah terasering. Tentunya ini termasuk salah satu tujuan kita. Dan kita tidak mau menyianyiakannya karena hujan semakin reda.
Seperti bermain undian, sebanyak-banyaknya tempat kita kunjungi supaya waktu tidak terbuang sia-sia.
Sekitar 20 menit dari Ubud ke Tegal Lalang. Saat kita sudah melihat sawah terasering yang menurut kita bagus, karena kita tidak mau terlalu jauh menanjak lagi, kita langsung berhenti dan mengambil foto. Setelah kita memarkirkan motor di pinggir jalan, kita disamperin sama anak-anak yang hendak menjual kartu pos kepada kita. Awalnya kita dikira orang asing oleh mereka. Gw juga bingung kenapa mereka ngira orang asing, mungkin karena dandanan kita agak ke-turis-turisan kali ya…

“Buy this mister! onli twenti tausend for ol mister”, anak tadi menawar ke gw.

Gw jadi niat jail deh, “How much?”
Mereka beneran ngira kalo kita ini orang asing. Terus mereka nanya,

“Where do you kam from, mister?”

“Umm..Where are from Malaysia…”
“Ooooohhh…Upin Ipin ha?

Hahahaha ngasal parah…mereka percaya aja lagi kalo kita dari Malaysia. Mereka terus terusin ngikutin kita untuk nawarin kartu pos nya. Gw sebenernya kasian, tapi apa daya uang kita hanya pas-pasan.
Kita juga sempet berkenalan sama 2 anak ini. Namanya Wayan dan Ketut, dan kita sempet berfoto bersama. Mereka masih SMP ternyata.

Tapi sayang sungguh disayang soalnya ladang padi sepertinya sedang belum ditanam, jadi tidak terlihat seindah kalo padi menghijau. Terasering nya bakalan keren banget pasti. Ditambah cuaca mendung…yaaasaaalaam…

Gw & Kicol bersama Ketut & Wayan

Mengejar Matahari (Tenggelam)
Merasa sudah sore, kita harus segera menuju tujuan terakhir kita yaitu Tanah Lot. Sekitar jam 16.30 kita pacu kembali motor kita menuju sisi barat daya pulau Bali. Karena kita sungguh mengharapkan banget sunset di Tanah Lot yang pastinya sangat indah seperti di lukisan – lukisan yang pernah gw lihat sebelumnya.
Sampai Denpasar ternyata sudah masuk waktu Magrib, dan kita terus pacu berharap masih bisa ngejar di Tanah Lot. Dan ternyata Tanah Lot tidak sedekat yang kita kira. Dari Denpasar aja masih sekitar 2 jam lagi. Alhasil kita baru sampai di Tanah Lot pukul 19.00 WIB, dan ironisnya pas kita dateng, orang orang justru sudah mau pulang semua. Cuma kita doang yang baru dateng jam segini!

Tanah Lot at night
Tapi tidak apalah, setidaknya sudah menjejakkan kaki di Tanah Lot ini. Pura Tanah Lot yang terkenal itu sudah tidak terlihat kalo udah malem gini. Untungnya kamera Philip canggih bin mahal, jadi meskipun malam gini, asal ada cahaya, dengan mengatur beberapa elemen dan sistem kamera sedikit. Taaadaaaa….Pura Tanah Lot dapat diabadikan…tentunya bersama dengan gw. Alhamdulillah…

Beres foto-foto dan melakukan perjalanan seharian yang cukup melelahkan, kita makan dulu di warung yang hampir tutup di sekitar parkiran Tanah Lot. Kita cari saja yang kira-kira halal, ketemu lah Warung Masakan Padang. Sebenrnya gw ragu dengan harganya, tapi namanya urusan perut, yasudahlah…
Beres makan dan gw sudah mengira sejak awal tentang harganya, kita langsung bergeas meninggalkan Tanah Lot langsung menuju Losmen Bali Dwipa untuk mandi dan isitrahat.

Dan di jalan pulang saat kita memasuki Jl. Legian, waktu itu sudah sekitar jam sepuluh malam kurang. Bule – bule bertebaran dimana-mana, aurat dipamerkan kemana-mana, wisatawan asing adalah mayoritas, minuman keras sudah tidak asing lagi, klab-klab bermusik keras juga saling bertarung suara mana yang paling keras dan paling banyak menggaet wisatawan.
Gw jadi teringat peristiwa disini beberapa tahun yang lalu. Gw sedikit mengerti kenapa orang-orang yang “kejam” itu meledakkan tempat ini. Padahal tepat di tempat kejadian, sebuah monumen yang bertuliskan korban-korban dari kejadian itu berdiri tinggi. Yang mungkin bertujuan untuk mengenang betapa dahsyatnya peristiwa beberapa tahun lalu.
Gw seketika langsung merinding ketika melewati monumen itu dan melihat kenyataan bahwa tidak bisa gw pungkiri kalo yang namanya maksiat bertebaran di sekeliling gw. dalam hati gw hanya berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Dan akhirnya sampai lah kita pada Losmen tercinta, yang mempunyai kamar mandi ber-bathtub tapi tidak bisa menampung air karena bocor.
Meskipun target kita yaitu Kintamani belum bisa dicapai hari ini, berarti kita harus capai besok. Dan harus bangun pagi supaya tidak buang-buang waktu.
Gak pake banyak cincong kita langsung mandi, sholat dan bergegas tidur…Zzz..Zzz..Zzz
See you tomorrow!

Catatanku: Study Tour Ke Bali

Bali adalah salah satu kota di Indonesia yang terkenal akan keindahan dan kemewahannya, dan menjadi salah satu destinasi hiburan yang sering dikunjungi oleh para wisatawan tidak hanya wisatawan dalam negeri juga wisatawan macanegara.

Waktu itu SMA 42 Jakarta mengadakan study tour dari tangggal 1-8 agustus 2015 dengan tujuan Yogyakarta, Malang, Bali dan Surabaya. Namun diantara semua kota yang dikunjungi oleh sekolah saya, Bali menjadi kota yang paling menarik, dan study tour kami menetap di Bali 3 hari 2 malam. Sampai di Bali pukul empat pagi setelah melalui perjalanan dari pelabuhan Ketapang Gilimanuk ke daerah Kuta saya dan seluruh murid sudah kelelahan dan memutuskan tidur ketika tiba di hotel di tempat kami menginap karena besok pukul tujuh pagi kami harus bersiap untuk pergi ke Universitas Udayama.

Dan besok pukul tujuh kami sudah bersiap di caffetaria hotel untuk sarapan, dan banyak siswa yang kena omel guru karena banyak yang bangun kesiangan, dan setelah sarapan langsung menuju ke bis lengkap dengan seragam putih abu-abu yang melekat ditubuh, dan pergilah kami yang jurusan IPS ke Fakultas Ilmu Budaya Udayana, kampus khusus untuk sastra dan beberapa jurusan lainnya. Sedangkan anak Ipa ke fakultas lain.

Pertama kali menginjakkan ke kampus Udayana, suasana kampus tersebut sedikit suram mungkin efek bentuk bangunan yang sedikit mirip dengan candid dan terdapat beberapa patung diluar gedung maupun didepan gedung. Dan naiklah kami ke lantai dua dan menuju auditorium untuk seminar yang pembicaranya adalah dosen-dosen Udayana untuk mempromosikan bagaimana keunggulan kampus Udayana tersebut dan seminar tersebut berjalan selama dua jam, Setelah selesai seminar kami diajak jalan-jalan memutari kampus Udayana.

Setelah selesai memutari kampus Udayana, acara selanjutnya adalah pergi ke desa Panglipuran, desa Panglipuran sendiri adalah sebuah desa adat yang telah berkembang menjadi desa wisata yang sangat ramai dikunjungi para wisatawan, lokal maupun mancanegara. Di sini terlihat keindahan desa yang sangat jauh dari arus lalu lintas peradaban yang sangat modern di Bali. Penataan dan atraksi desa wisata yang sangat apik namun tetap sederhana membuat desa ini sangat tepat buat melepas penatnya perkotaan dan menyegarkan pikiran dari kerasnya perkembangan zaman.

Kelas saya dibagi dua tim untuk mewawancarai penduduk desa Panglipuran, dan bertemu seorang ibu yang tengah menggendong anaknya. Kami bertanya apa status pekerjaan orang-orang didesa Panglipuran dan dia menyatakan walaupun tidak terlalu bergantung kepada teknologi modern para penduduk Panglipuran memiliki pekerjaan seperti pada umumnya bahkan beberapa penduduk ada yang pergi keluar negeri untuk bekerja. Setelah melakukan sedikit wawancara kami semua berkeliling dan mengagumi betapa indahnya desa Panglipuran, suasananya sangat adem dan bersih. Bahkan kelas saya sempat berfoto bersama di desa Panglipuran untuk kenang-kenangan.

Setelah selesai didesa Panglipuran kami semua langsung melakukan perjalanan kembali ke hotel namun sebelum kembali ada acara menonton tari kecak dan makan malam, namun ditengah perjalanan menuju tempat tari kecak ban bis kami bocor sehingga kami terlambat menonton tari kecak dan ketika sampai ditujuan ternyata tari kecak sudah berjalan setengahnya.

Keesokan harinya ada jadwal untuk pergi ke Tanjung Benoa, GWK, pantai kuta dan restoran Jimbaran untuk acara prom night.

Ketika di Tanjung Benoa sebenarnya kami cukup excited karena berharap bias bermain beberapa olahraga air, bahkan saya dan teman-teman sudah membawa baju ganti tapi ekspetasinya adalah harga untuk permainan air disana sangat mahal hampir semua diatas seratus ribu. Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pulau penyu saja. Dan menyewa kapal yang harus berisi sepuluh orang dan satu orang harus membayar lima puluh ribu dan menurut saya harga segitu terlalu mahal karena waktu yang diberikan untuk ke pulau tersebut hanya sekitar 20 menit saja. Namun karena penasaran kami memutuskan untuk pergi kesana, dan selama perjalanan menyebrang pulau kami mengambil beberapa foto diatas kapal.

Dan setelah sampai ternyata di pulau tersebut terdapat banyak hewan, tidak hanya penyu namun juga beberapa reptile seperti ular, iguana dan banyak lagi. Ada salah satu pengalaman buruk yang teman saya dapat ketika dia beli aqua dan pop mie ternyata harganya luar biasa mahal, untuk aqua harganya 10.000 dan untuk pop mie harganya 25.000 berbeda jauh dengan harga aslinya, dan membuat saya mengetahui ternyata harga makanan atau minuman di tempat wisata Bali sangat mahal.

Setelah 20 menit berlalu kami dipanggil oleh yang menyewakan kapal untuk kembali ke Tanjung Benoa, dan kami tidak menyia-nyiakan untuk berfoto sebelum pergi dari pulau penyu.

Setelah kembali dari pulau penyu, ternyata masih ada waktu lama karena jadwal di Tanjung Benoa dua jam lebih, teman saya mengajak saya untuk mencari makan di luar area karena harga makanan di dalam mahal. Dan diluar ada yang menjual bakso namun kami sempat ragu karena cukup sulit mencari makanan halal namun ternyata ada yang menjual bakso halal. Kami memutuskan membelinya karena harganya cukup murah hanya 10 ribu saja, namun ketika mencobanya ternyata rasanya tepung saja tidak berasa dagingnya tapi karena sudah dibeli akhirnya kami terpaksa menghabiskan semuanya.

Tak terasa dua jam berlalu, dan kami melanjutkan perjalanan ke Garuda Wisnu Kencana tapi arca dewa wisnu yang terkenal belum selesai dibangun, jadwal pergi kesini tidak terlalu lama hanya sekitar satu jam saja jadi yang kami lakukan hanya mengambil beberapa foto dan mengobrol saja.

Setelah dari Garuda Wisnu Kencana, jadwal selanjutnya adalah ke pantai kuta selama 30 menit dan setelahnya kembali ke hotel untuk persiapan prom night, di pantai kuta kami hanya bermain air saja tidak sempat berfoto karena memori handphone kami semua sudah full dan ada yang baterenya habis, kebetulan hotel kami tidak terlalu jauh dari pantai kuta sehingga kami bias kembali sendiri.

Dan malamnya kami pergi ke restoran jimbaran untuk acara prom night, tidak ada yang special dari acara ini hanya makan malam bersama dan penampilan spesial dari setiap perwakilan kelas. Namun ini menjadi kenangan yang cukup indah karena melihat penampilan-penampilan dari kelas lain juga dan juga menjadi malam terakhir di Bali karena besok akan pergi ke Surabaya pada sore hari.

Keesokan harinya kita semua sudah bersiap-siap pergi dari Bali, membawa seluruh barang. Namun sebelum pergi dari Bali sudah terjadwal ke toko oleh-oleh krisna, toko baju jogger dan Tanah lot. Ketika sampai di toko oleh-oleh Krisna semua murid antusias berbelanja oleh-oleh untuk keluarga mereka begitupun di toko baju jogger.

Sedangkan ketika di Tanah Lot kami hanya menikmati pemandangan indah, kebetulan air laut sedang pasang sehingga candi yang biasa tempat untuk beribadah tidak bisa dilewati, tapi anehnya setiap hari raya nyepi air laut selau surut sehingga candi yang berada ditengah laut itu bisa dilewati dan menjadi tempat ibadah.

Setelah dari Tanah Lot kami langsung pergi ke pelabuhan yang sama seperti kami tiba, untuk pergi ke Surabaya dan melanjutkan Study Tour terakhir.