Catatanku : Mimpi Mendaki Fuji Jepang

“Sensei, nanti kalau saya ke Jepang, kita mendaki Gunung Fuji bareng ya?” saya tertawa sendiri mendengar ajakan yang saya ucapkan kepada Marutani Sensei belasan tahun lalu. Saat itu Sensei belum mengajar di UPI sehingga saya lebih mengenal beliau sebagai teman pribadi daripada dosen di kelas.

Jepang termasuk negara yang saya tulis dalam 1001 dreamlist saya. Awal tahun 2015 saat pameran wisata Jepang di kawasan kantor saya, APL Tower Central Park, Jakarta Barat. Secara iseng, saya bertanya persyaratan dan prosedur pendakian Gunung Fuji. Tadinya saya pikir pendakian Fuji akan memakan waktu berhari-hari, dengan medan berat, salju di puncaknya dan para ‘sherpa’ ala Everest. Bayangan tersebut langsung musnah. Saya terkejut mendengar penjelasan bahwa Gunung Fuji bisa didaki hanya dalam waktu satu hari dan tidak diperlukan pemandu karena jalurnya sudah jelas. Peralatan bisa disewa di Jepang sehingga tidak perlu membawa dari Indonesia.

Saya jadi berpikir jangan-jangan mendaki Gunung Fuji tidak lebih sulit dari ke Bromo atau Baduy saja. Pantas saja dulu Sensei bilang beliau turun dari salah satu pos Gunung Fuji dengan kuda. Untuk pertama kalinya saya merasa keinginan mendaki Fuji bisa dicapai.

Yang cukup mengecewakan, ternyata di Gunung Fuji tidak diperbolehkan berkemah. Para pendaki menyewa penginapan di Fuji, membeli makanan di sekitarnya, serta dapat mengirimkan kartu pos melalui kantor pos yang ada di atas gunung. Ini Fuji atau Puncak Pass sih?

Ufh, apa serunya naik gunung tanpa menikmati bintang dan api ungun di tempat terbuka? Kalau gunung-gunung di Indonesia lazim didaki berkali-kali, mendaki Gunung Fuji lebih dari sekali konon dianggap sebagai sebuah kebodohan. Saya jadi merasa keinginan mendaki Gunung Fuji tidak lagi menarik. Jangan-jangan sensasinya hanya seperti tracking di Gunung Mas lalu bermalam di Puncak?

Untungnya dalam pameran tersebut, saya mendapat banyak brosur dan pamflet dari berbagai prefektur. Jadilah saya memilih kembali tempat-tempat yang sekiranya menarik di Jepang. Ini sulit mengingat setiap tempat di Jepang memiliki keunikan tersendiri dan Jepang selalu indah dikunjungi dalam musim apa pun.

Beberapa teman yang tahu bahwa setiap tahun saya selalu bertualang ke tempat-tempat eksotis lantas mengajukan diri untuk ikut serta. Jadi kalau biasanya saya backpacking sendirian, kali ini saya akan mengatur sebuah perjalanan bersama teman-teman lain. Beberapa orang akhirnya mundur hingga tersisa 4 orang: saya, Nita teman baik saya sejak SMP, Mbak Wati dan Chichi.

Menyadari bahwa gaya traveling kami berbeda membuat kami harus saling berkompromi. Saya menyukai alam dan sesuatu yang cukup memacu adrenalin. Nita penyuka belanja dan wisata kuliner, Mbak Wati yang berusia 50-an terbiasa terima beres ikut dalam paket tur, Chichi tidak masalah tempat manapun asalkan yang dituju adalah Jepang.

***

November 2015.

“Ke Jepang yuk?” ajak Nita seolah ke Jepang semudah kami berangkat ke Bogor.

“Ini jelang akhir tahun, Ta. Crowded. Sampai awal tahun depan aku stay di Jakarta.” Nita menghubungi saya via whats app, menjelang akhir tahun 2015. “Kalau mau duluan, duluanlah, ini aku kasih referensi teman yang punya tur.”

Nyatanya, Nita kemudian juga disibukkan oleh pekerjaan hingga ia menghubungi saya lagi untuk membahas rencana perjalanan kami.

Saya keberatan jika berangkat akhir dan awal tahun karena dua waktu tersebut biasanya saat tersibuk perusahaan untuk laporan akhir tahun dan koordinasi tahun berikutnya. Meski harga tiket saat musim dingin terbilang paling murah, kami sepakat bahwa perjalanan ini butuh persiapan yang lebih matang.

“Gue dibolehin bokap nyokap pergi tanpa tur kalo bareng elu,” tulis Nita pada layar whats app.

Waduh. Mendadak saya merasa sebuah beban baru ditimpakan ke pundak.

Kami mulai membahas waktu yang tepat untuk perjalanan ini.

“Gue pengin liat sakura,” tulis Nita lagi.

“Aku lebih suka momiji ta. Lagipula sakura terlalu mainstreem.”

“Momiji apaan sih?”

Saya mengirim gambar-gambar momiji dari internet.

“Ah, daun maple yang memerah gitu doang mah gak mesti ke Jepang. Tahun depan pas autumn kita ke Emma.” Emma adalah teman kami yang bermukim di Jerman.

Saya menimbang-nimbang. Benar juga sih.

“Namanya Jepang cari khasnya dong. Ya sakuralah,” tulis Nita lagi.

“Di Cibodas juga ada sakura,” balas saya.

“Ya tapi beda.”

“Sakura itu high session di Jepang, harus pesen tiket jauh-jauh hari. Eh, tapi momiji juga ding.”

“Nah kan….”

“Hemh…, gimana kalo gak pas sakura, tapi masih musim semi? Udaranya lebih bersahabat tapi gak peak session. Dirimu punya asma kan? Musim semi udah gak terlalu dingin. Kita pergi dekat ulang tahun kita berdua. Hadiah ultah buat diri sendiri, gimana?”

Saya lahir di bulan Mei dan Nita di bulan Juni.

“Oke, deal.”

***

Saya memutuskan mencoret Hakone dari destinasi dan menggantinya dengan Kawaguchiko yang lebih dekat dari Tokyo. Incaran saya dalam trip kali ini adalah Kamikochi dan Japan Alpen Route, Morodu.

Saya anggap dua tempat tersebut cukup anti mainstreem dari sekedar Tokyo-Osaka-Kyoto yang sangat umum. Nita mengharuskan diri ke museum Doraemon. Saya ragu kami bisa pergi ke Tsukiji market. Sementara saya mengatur waktu untuk bisa bertemu dengan Marutani Sensei di Chiba, Chichi mengatakan ia ketitipan oleh-oleh ke Uniqlo Jepang sehingga saya harus mengatur ulang rencana agar bisa mampir ke Gotenba. Saya berencana membeli kamus elektronik atau kamera di Akibahara, kamus kanji serta buku Totto Chan berbahasa Jepang di Book off. Toko serba 100 yen menjadi permintaan wajib. Kami sepakat untuk membeli down jacket dan sepatu boots di Jepang untuk persiapan ke Morodu.

Jadi sepertinya kami perlu mampir melihat baju-baju di Harajuku. Mode off atau Uniqlo. Ini akan menjadi flashpacking, bukan backpacking. Dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan, hotel kapsul tidak ada dalam pilihan penginapan kami. Jangan berharap menginap di ryokan. Kamar privat di penduduk lokal atau apartemen sudah cukup bagus. FYI, penginapan di Jepang dihitung per orang, bukan per kamar.

Saya menghabiskan waktu sekitar sebulan untuk membuat itinerary detail, googling setiap tempat yang akan kami lalui, jalur kereta dan bus, makanan halal serta mendatangi Japan Travel Fair AEON Mall BSD, berbicara dengan orang-orang Jepang di booth yang tersedia dan bertanya apakah itinerary saya masuk akal.

Dasar rezeki, saya bersyukur menemukan orang Jepang dalam booth Guidest. Guidest adalah sarana untuk membuat itinerary wisatawan yang akan pergi ke Jepang tanpa tur. Kita bisa menggunakan aplikasi ini secara gratis di https://www.japanguidest.com.

Saya memperlihatkan itinerary saya, aplikasi Japan Train dan Hyperdia dalam ponsel dan mendapat jawaban bahwa itinerary saya sudah bagus dan masuk akal.

Iseng-iseng saya pergi ke booth lain, bertanya ke travel agent harga paket yang saya inginkan. Tokyo-Kyoto-Osaka dengan sebelumnya ke Museum Doraemon, Chiba, Matsumoto-Kamikochi-Japan Alpen Route-Morodu. Itinerary saya ternyata harus mengambil dua paket. Dengan tambahan Disneyland, rute yang saya inginkan berharga 35 juta rupiah per orang. Gubrakk. *mendadak pingsan.

Saya memutar otak agar perjalanan 9 hari kami tidak lebih besar dari paket umroh saya tahun 2011 (saat itu dolar masih Rp.8600). Itinerary yang saya buat sudah termasuk perjalanan 2 hari PP, menginap di mana, makan apa, naik apa, dan apa yang akan kami lakukan.

Masalahnya, rencana awal yang tadinya hanya 7 hari berubah menjadi total 14 hari, dengan budget yang sama. Ini tentu butuh perhitungan ulang mengingat harga tiket pesawat dan kereta sudah menghabiskan setengahnya.

Kekurangan tidak ikut tur adalah beberapa fasilitas yang tidak kami dapatkan, misalnya pemandu berbahasa Indonesia atau Inggris. Yang jelas, saya lebih pusing merencanakan semuanya. Namun di sisi lain, saya sangat bersemangat, begitu pula yang lainnya.

Saya merasa cukup percaya diri untuk perjalanan kali ini. Pertama, tahun lalu saya sudah solo backpacker sendirian selama 9 hari di 9 tempat, termasuk ke Phi phi island di Thailand dan menemukan rumah saudara di Malaysia hanya dengan bekal sebuah alamat. (Lihat catatan perjalanannya di blog ini).

Kalau di Thailand yang bahasanya tidak saya mengerti saja saya bisa survive, masak sih Jepang tidak bisa? Toh saya pernah belajar bahasa dan budayanya.

Alasan kedua, sistem transportasi di Jepang lebih mudah, tepat waktu dan jelas. Ini tentu berbeda dengan perjalanan ke pelosok Indonesia di mana perjalanan bisa terlambat karena tidak adanya angkutan atau pelayaran feri yang mendadak dibatalkan. Jepang juga relatif aman. Tante saya dulu kuliah S2 di sana. Beberapa teman saya dan Chichi juga ada di Jepang, meski sejak awal kami sudah memutuskan untuk melakukan semuanya dengan usaha sendiri.

Peraturan saya dalam setiap perjalanan relatif sama. Saya akan mempersiapkan semuanya di awal secara tertulis, dan pada hari H, saya akan lebih banyak bertanya pada penduduk setempat tanpa menggunakan gadget.

Dengan cara ini, saya lebih bisa berbaur, merasakan unsur lokal. Mendapat pengalaman yang lebih kaya daripada ikut tur serta mau tidak mau melatih keterampilan bahasa dan komunikasi saya.

Namun, menjelang keberangkatan, ternyata kami memiliki ujian masing-masing, dan bahkan dalam tiap tahapan perjalanannya, sudah menciptakan drama tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *