Catatanku : Mimpi Mendaki Fuji Jepang

“Sensei, nanti kalau saya ke Jepang, kita mendaki Gunung Fuji bareng ya?” saya tertawa sendiri mendengar ajakan yang saya ucapkan kepada Marutani Sensei belasan tahun lalu. Saat itu Sensei belum mengajar di UPI sehingga saya lebih mengenal beliau sebagai teman pribadi daripada dosen di kelas.

Jepang termasuk negara yang saya tulis dalam 1001 dreamlist saya. Awal tahun 2015 saat pameran wisata Jepang di kawasan kantor saya, APL Tower Central Park, Jakarta Barat. Secara iseng, saya bertanya persyaratan dan prosedur pendakian Gunung Fuji. Tadinya saya pikir pendakian Fuji akan memakan waktu berhari-hari, dengan medan berat, salju di puncaknya dan para ‘sherpa’ ala Everest. Bayangan tersebut langsung musnah. Saya terkejut mendengar penjelasan bahwa Gunung Fuji bisa didaki hanya dalam waktu satu hari dan tidak diperlukan pemandu karena jalurnya sudah jelas. Peralatan bisa disewa di Jepang sehingga tidak perlu membawa dari Indonesia.

Saya jadi berpikir jangan-jangan mendaki Gunung Fuji tidak lebih sulit dari ke Bromo atau Baduy saja. Pantas saja dulu Sensei bilang beliau turun dari salah satu pos Gunung Fuji dengan kuda. Untuk pertama kalinya saya merasa keinginan mendaki Fuji bisa dicapai.

Yang cukup mengecewakan, ternyata di Gunung Fuji tidak diperbolehkan berkemah. Para pendaki menyewa penginapan di Fuji, membeli makanan di sekitarnya, serta dapat mengirimkan kartu pos melalui kantor pos yang ada di atas gunung. Ini Fuji atau Puncak Pass sih?

Ufh, apa serunya naik gunung tanpa menikmati bintang dan api ungun di tempat terbuka? Kalau gunung-gunung di Indonesia lazim didaki berkali-kali, mendaki Gunung Fuji lebih dari sekali konon dianggap sebagai sebuah kebodohan. Saya jadi merasa keinginan mendaki Gunung Fuji tidak lagi menarik. Jangan-jangan sensasinya hanya seperti tracking di Gunung Mas lalu bermalam di Puncak?

Untungnya dalam pameran tersebut, saya mendapat banyak brosur dan pamflet dari berbagai prefektur. Jadilah saya memilih kembali tempat-tempat yang sekiranya menarik di Jepang. Ini sulit mengingat setiap tempat di Jepang memiliki keunikan tersendiri dan Jepang selalu indah dikunjungi dalam musim apa pun.

Beberapa teman yang tahu bahwa setiap tahun saya selalu bertualang ke tempat-tempat eksotis lantas mengajukan diri untuk ikut serta. Jadi kalau biasanya saya backpacking sendirian, kali ini saya akan mengatur sebuah perjalanan bersama teman-teman lain. Beberapa orang akhirnya mundur hingga tersisa 4 orang: saya, Nita teman baik saya sejak SMP, Mbak Wati dan Chichi.

Menyadari bahwa gaya traveling kami berbeda membuat kami harus saling berkompromi. Saya menyukai alam dan sesuatu yang cukup memacu adrenalin. Nita penyuka belanja dan wisata kuliner, Mbak Wati yang berusia 50-an terbiasa terima beres ikut dalam paket tur, Chichi tidak masalah tempat manapun asalkan yang dituju adalah Jepang.

***

November 2015.

“Ke Jepang yuk?” ajak Nita seolah ke Jepang semudah kami berangkat ke Bogor.

“Ini jelang akhir tahun, Ta. Crowded. Sampai awal tahun depan aku stay di Jakarta.” Nita menghubungi saya via whats app, menjelang akhir tahun 2015. “Kalau mau duluan, duluanlah, ini aku kasih referensi teman yang punya tur.”

Nyatanya, Nita kemudian juga disibukkan oleh pekerjaan hingga ia menghubungi saya lagi untuk membahas rencana perjalanan kami.

Saya keberatan jika berangkat akhir dan awal tahun karena dua waktu tersebut biasanya saat tersibuk perusahaan untuk laporan akhir tahun dan koordinasi tahun berikutnya. Meski harga tiket saat musim dingin terbilang paling murah, kami sepakat bahwa perjalanan ini butuh persiapan yang lebih matang.

“Gue dibolehin bokap nyokap pergi tanpa tur kalo bareng elu,” tulis Nita pada layar whats app.

Waduh. Mendadak saya merasa sebuah beban baru ditimpakan ke pundak.

Kami mulai membahas waktu yang tepat untuk perjalanan ini.

“Gue pengin liat sakura,” tulis Nita lagi.

“Aku lebih suka momiji ta. Lagipula sakura terlalu mainstreem.”

“Momiji apaan sih?”

Saya mengirim gambar-gambar momiji dari internet.

“Ah, daun maple yang memerah gitu doang mah gak mesti ke Jepang. Tahun depan pas autumn kita ke Emma.” Emma adalah teman kami yang bermukim di Jerman.

Saya menimbang-nimbang. Benar juga sih.

“Namanya Jepang cari khasnya dong. Ya sakuralah,” tulis Nita lagi.

“Di Cibodas juga ada sakura,” balas saya.

“Ya tapi beda.”

“Sakura itu high session di Jepang, harus pesen tiket jauh-jauh hari. Eh, tapi momiji juga ding.”

“Nah kan….”

“Hemh…, gimana kalo gak pas sakura, tapi masih musim semi? Udaranya lebih bersahabat tapi gak peak session. Dirimu punya asma kan? Musim semi udah gak terlalu dingin. Kita pergi dekat ulang tahun kita berdua. Hadiah ultah buat diri sendiri, gimana?”

Saya lahir di bulan Mei dan Nita di bulan Juni.

“Oke, deal.”

***

Saya memutuskan mencoret Hakone dari destinasi dan menggantinya dengan Kawaguchiko yang lebih dekat dari Tokyo. Incaran saya dalam trip kali ini adalah Kamikochi dan Japan Alpen Route, Morodu.

Saya anggap dua tempat tersebut cukup anti mainstreem dari sekedar Tokyo-Osaka-Kyoto yang sangat umum. Nita mengharuskan diri ke museum Doraemon. Saya ragu kami bisa pergi ke Tsukiji market. Sementara saya mengatur waktu untuk bisa bertemu dengan Marutani Sensei di Chiba, Chichi mengatakan ia ketitipan oleh-oleh ke Uniqlo Jepang sehingga saya harus mengatur ulang rencana agar bisa mampir ke Gotenba. Saya berencana membeli kamus elektronik atau kamera di Akibahara, kamus kanji serta buku Totto Chan berbahasa Jepang di Book off. Toko serba 100 yen menjadi permintaan wajib. Kami sepakat untuk membeli down jacket dan sepatu boots di Jepang untuk persiapan ke Morodu.

Jadi sepertinya kami perlu mampir melihat baju-baju di Harajuku. Mode off atau Uniqlo. Ini akan menjadi flashpacking, bukan backpacking. Dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan, hotel kapsul tidak ada dalam pilihan penginapan kami. Jangan berharap menginap di ryokan. Kamar privat di penduduk lokal atau apartemen sudah cukup bagus. FYI, penginapan di Jepang dihitung per orang, bukan per kamar.

Saya menghabiskan waktu sekitar sebulan untuk membuat itinerary detail, googling setiap tempat yang akan kami lalui, jalur kereta dan bus, makanan halal serta mendatangi Japan Travel Fair AEON Mall BSD, berbicara dengan orang-orang Jepang di booth yang tersedia dan bertanya apakah itinerary saya masuk akal.

Dasar rezeki, saya bersyukur menemukan orang Jepang dalam booth Guidest. Guidest adalah sarana untuk membuat itinerary wisatawan yang akan pergi ke Jepang tanpa tur. Kita bisa menggunakan aplikasi ini secara gratis di https://www.japanguidest.com.

Saya memperlihatkan itinerary saya, aplikasi Japan Train dan Hyperdia dalam ponsel dan mendapat jawaban bahwa itinerary saya sudah bagus dan masuk akal.

Iseng-iseng saya pergi ke booth lain, bertanya ke travel agent harga paket yang saya inginkan. Tokyo-Kyoto-Osaka dengan sebelumnya ke Museum Doraemon, Chiba, Matsumoto-Kamikochi-Japan Alpen Route-Morodu. Itinerary saya ternyata harus mengambil dua paket. Dengan tambahan Disneyland, rute yang saya inginkan berharga 35 juta rupiah per orang. Gubrakk. *mendadak pingsan.

Saya memutar otak agar perjalanan 9 hari kami tidak lebih besar dari paket umroh saya tahun 2011 (saat itu dolar masih Rp.8600). Itinerary yang saya buat sudah termasuk perjalanan 2 hari PP, menginap di mana, makan apa, naik apa, dan apa yang akan kami lakukan.

Masalahnya, rencana awal yang tadinya hanya 7 hari berubah menjadi total 14 hari, dengan budget yang sama. Ini tentu butuh perhitungan ulang mengingat harga tiket pesawat dan kereta sudah menghabiskan setengahnya.

Kekurangan tidak ikut tur adalah beberapa fasilitas yang tidak kami dapatkan, misalnya pemandu berbahasa Indonesia atau Inggris. Yang jelas, saya lebih pusing merencanakan semuanya. Namun di sisi lain, saya sangat bersemangat, begitu pula yang lainnya.

Saya merasa cukup percaya diri untuk perjalanan kali ini. Pertama, tahun lalu saya sudah solo backpacker sendirian selama 9 hari di 9 tempat, termasuk ke Phi phi island di Thailand dan menemukan rumah saudara di Malaysia hanya dengan bekal sebuah alamat. (Lihat catatan perjalanannya di blog ini).

Kalau di Thailand yang bahasanya tidak saya mengerti saja saya bisa survive, masak sih Jepang tidak bisa? Toh saya pernah belajar bahasa dan budayanya.

Alasan kedua, sistem transportasi di Jepang lebih mudah, tepat waktu dan jelas. Ini tentu berbeda dengan perjalanan ke pelosok Indonesia di mana perjalanan bisa terlambat karena tidak adanya angkutan atau pelayaran feri yang mendadak dibatalkan. Jepang juga relatif aman. Tante saya dulu kuliah S2 di sana. Beberapa teman saya dan Chichi juga ada di Jepang, meski sejak awal kami sudah memutuskan untuk melakukan semuanya dengan usaha sendiri.

Peraturan saya dalam setiap perjalanan relatif sama. Saya akan mempersiapkan semuanya di awal secara tertulis, dan pada hari H, saya akan lebih banyak bertanya pada penduduk setempat tanpa menggunakan gadget.

Dengan cara ini, saya lebih bisa berbaur, merasakan unsur lokal. Mendapat pengalaman yang lebih kaya daripada ikut tur serta mau tidak mau melatih keterampilan bahasa dan komunikasi saya.

Namun, menjelang keberangkatan, ternyata kami memiliki ujian masing-masing, dan bahkan dalam tiap tahapan perjalanannya, sudah menciptakan drama tersendiri.

Kuliner : Pakis Campur Kecombrang Ala Pangandaran

Telah lama sekali saya mengetahui tentang pakis haji yang bisa dimakan dengan cara disayur. Bahkan membacanya dalam resepresep makanan Nusantara. Akan tetapi, belum pernah sekalipun saya kawenehan menemukan pakis tersebut di pasar Bandung, terutama di pasar KPAD, Parongpong, dan Lembang yang biasa saya kunjungi. Oleh karena itu, saya hanya bermimpi saja tentang sayur pakis (paku) haji tersebut.

Kalaulah perempuan hamil, mungkin saya terus mengidam tentang pakis haji tersebut. Saya selalu mencari tahu orang tua saya dulu suka masak atau tidak tentang hal itu. Kata Ua saya, dulu iya Ema (nenek saya) suka masak pakis. Tapi sekarang, tangkal pakisnya juga hampir hilang. Kebun tegalan yang sebegitu luasnya tidak lagi menghasilkan pakis. Ya satu atau dua masih ada, tapi pakis yang tidak bisa dimakan.

Saya sempat berpikir, mungkin di pasar-pasar tradisional Bogor, pakis masih bisa ditemukan. Atau di swalayan-swalayan yang menyediakan keperluan untuk kuliner, pakis masih bisa ditemukan –dunia kan sudah terbalik.

Teman di FB yang orang Ciamis, sempat menawarkan, apabila saya ke Pangandaran singgahlah barang sebentar ke rumahnya, nanti akan dijamu dengan sayur pakis, katanya. Ya Allah, beuki kabita saja saya akan sayur tersebut. Sayang, ketika di Pangandaran, beliau tidak OL dan di info FB-nya tidak meninggalkan nomor yang bisa dihubungi (nuju mudik, Ceu?), ya kemudian saya melanjutkan mimpi lagi tentang pakis haji.

Esoknya di Pangandaran, adik ipar menjamu saya dengan sayur yang sungguh asing di lidah saya. Ketika saya tanyakan, dia menjawab, sayur pakis. Masya Allah, saya kaget bukan kepalang. Perasaan apa dalam benak, saya tidak bisa menjabarkannya. Yang jelas, saya sangat bersyukur akhirnya bisa merasai sayur pakis.

Karena penasaran dengan daun pakisnya, saya minta suami membelikan barang dua ikat daun pakis di pasar Pangandaran. Tanggal 14 September 2010 mungkin waktu yang bersejarah buat saya, karena saya akan membuat sayur pakis dengan bumbu yang nge-blank, tanpa resep masakan tanpa tahu bumbu apa yang harus saya siapkan tapi setidaknya saya punya pengalaman merasakan sayur buatan adik ipar. Saya pikir, saya bisa eksplor bumbu.

Subuh-subuh setelah salat, saya siap memasak. Bismillah, daun pakis saya amati, elukkannya saya rabai, daun mungilnya saya rasai dengan segenap jiwa saya. Pikiran saya kumalayang ke masa silam. Terbayang ibukota Kerajaan Sunda, Pajajaran, di wilayah Barat yang tiap sisi jalan menuju ke arahnya dihiasi pohon pakis yang ngajajar. Terbayang ibukota Kerajaan Sunda, Kawali, di wilayah Timur juga dihiasi pohon-pohon pakis. Terbayang penduduk Kerajaan Sunda yang memanfaatkan pohonpohon pakis ini untuk teman nasi.

Ya, bayangan-bayangan manusia masa kini yang tidak mengalami sendiri pengalaman itu. Mungkin hanya imaji, mungkin hanya interpretasi, atau kegilaan seorang yang neurosis akan keindahan masa lalu yang mungkin sama sekali tidak indah.

Tak sadar saya ngemat Raja Sunda, entah yang mana, benak saya noroweco bahwa saya akan memasak daun pakis ini. Daun pakis yang muncul dari masa silam, masa purba, yang mengandung muatan sejarah dan budaya. Daun pakis yang menjadi motif pekakas para lelaki dan motif sisi-sisi jamang (baju) dan motif batik kain yang dibuat para wanita.

Daun pakis/paku jajar memancar pada seni kriya, memancar pada desain, memancar pada penataan taman, memancar pada seni interior dan eksterior tiang-tiang pancang kerajaan, memancar pada kuliner Sunda heubeul yang hidup sampai sekarang.

Saya sangat bangga memasak daun pakis ini. Walau sembarang orang bisa memasaknya dengan sangat lezat, tapi mungkin mereka tidak mempunyai kesadaran akan kesejarahan seperti saya muatkan pada masakan saya. Inilah mungkin yang disebut muatan semiotik yang dikatakan Barthes sebagai pemaknaan mendalam.

Bumbu-bumbu saya racik sendiri, bumbu khusus sambel cikur ditambah potongan ikan asin jambal Pangandaran, pertemuan gunung dan lautan saya aduk di wajan.

Ya, untuk jurumasak tak berpengalaman dan jarang masak seperti saya, sajian akhir sayur pakis ini, menjadi lumayanlah. Walaupun kata dahuan, daun pakis ini ditumis biasa juga enak, apalagi ditambah udang dan dibanjur santan, tentu sedap sekali.
Sayangnya di dapur tidak ada combrang. Kalau ada, lengkap sudah kuliner purba dimasak dengan bumbu purba juga –combrang dalam sastra Sunda kuno adalah tanaman bumbu yang diperebutkan paman Lengser Kerajaan Pajajaran dan Lengser Kerajaan Muaraberes, karena istri raja dari kedua kerajaan tersebut sedang hamil muda dan mengidamkannya untuk membumbui rujak.

Yang terpenting dari semua ini, saya mempunyai kesadaran dalam aktivitas saya. Kesadaran sejarah dan budaya, mungkin. Dan kesadaran itu pula yang membuat masakan saya lebih bernilai walau kata Si Akang, sayur pakis saya rasanya sedikit sama dengan rasa air laut Pangandaran.

Catatanku : Pendakian Gunung Slamet

Gunung Slamet merupakan gunung aktif yang berada di kabupaten Purbalingga, Pemalang, Brebes, Banyumas, dan Tegal dengan ketinggian 3428 mdpl yang merupakan gunung tertinggi di jawa tengah dan kedua di pulau jawa setelah gunung semeru.
pendakian kali ini bersama team MKMA ( Rudi, Safi’i, sidkon dan zaki)dan saya sendiri. start nya dari rumah saya di plantungan kendal. kami start pada pukul 10.30 WIB pada tanggal 11 Juli 2017 lewat tersono batang. sampai ditersono perut kami sudah lapar dan tidak lupa mampir makan di mie ayam rejosari tersono.

kami berangkat berlima menggunakan 3 sepeda motor dan rutenya via (bambangan) jalurnya pantura tersono limpung batang pekalongan pemalang randu dongkal belik moga purbalingga.
perjalanannya kita skip ya tidak usah saya tulis semua karena terlalu panjang.

Basecamp – pos 1 ( 2 jam )
trek awal berupa ladang penduduk berupa sayuran, setelah berjalan sekitar 25 menit kita akan menemukan lapangan di kiri jalan. view menuju pos 1 sangat indah terlihat perkebunan dan tebing tebing hijau di sekitar. jarak tempuh menuju pos 1 adalah yang paling panjang, di tengah perjalanan kita akan menemukan warung yang menjual minuman, gorengan, dan semangka. pukul 10.00 kami sampai di pos 1. kondisi pos ini terdapat warung yang bisa digunakan untuk berteduh. kami break untuk memesan tempe goreng dan buah.
pos 1 – pos 2 ( 2 jam )
pukul 10.15 kami melanjutkan perjalanan, menuju pos 2 trek mulai berubah memasuki hutan lebat dan pemandangan tidak seterbuka seperti sebelumnya, dan tentunya lebih menanjak. hutan di gunung slamet memang terkenal alami jadi tidak salah kalo kita akan menemukan hutan lebat terus menerus sampai pos 7. trek yang kita lewati berupa tanah jadi sangat berdebu saat musim kemarau dan licin jika turun hujan. sampai di pos 2 kami break, dan kami berpapasan dengan rombongan lain yang memberitahukan bahwa ada korban yang jatuh kejurang sedalam 20 meter, tidak lupa kami lihat foto dan video sekalian copy via share it tapi dipeseni jangan di upload di sosmed ya……siap.

pos 2 – pos 3 ( 2 jam 30 menit )
menuju pos selanjutnya rute masih menanjak dan banyak pohon besar di tepi jalur. . beruntung hujan hanya turun sebentar sehingga tanah belum licin. pukul 16.30 kami sampai di pos 3. pos ini terdapat satu pedagang.
pos 3 – pos 4 ( 1 jam 30 menit )
menuju pos 4 trek yang dilalui berupa hutan lebat dan lembab. sinar matahari hanya menembus lewat celah kecil pepohonan. tanjakan demi tanjakan kami lalui. setengah jalan ada pos bayangan . kami melanjutkan perjalanan dan beberapa menit kemudian sampai di pos IV samarantu. di pos ini sudah ada beberapa tenda yang berdiri. namun menurut pesan beberapa pendaki, usahakan jangan mendirikan tenda di pos 4, itu mitos sih percaya gak percaya. karena masih Fit maka kami pun langsung melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat, oia di pos 4 ini terdapat pohon besar seperti pintu gerbang
.
pos 4 – pos 5 ( 1 jam 15 menit )
pukul 16.30 kami terus berjalan, darisepanjang jalan dari pos 4 ke pos 5 banyak tenda yang sudah berdiri di sekitar jalur. mungkin daripada tidak kebagian tempat di atas. trek sama seperti sebelumnya.

pos 5 – pos 6 ( 40 menit )
pukul 17.30 kami sampai di pos 5. saat di pos 5 saya tanya apakah ada sumber air? saya tanya ke pedagang….dan pedagang pun menjawab…..waduh mas udah kering….saya takut kalau-kalu kekurangan air….jadi saya putuskan untuk membeli air di pos 5, itu pun air isi ulang yang harganya gilee lo ndro……15 ribu…edan….gila…..lalu saya tawar eh 10 ribu boleh….setelah tak bawa alangkah terkejutnya airnya butek dan ngkrewit. masih dipos 5 tiba-tiba ada mas-mas nyapa saya….mas bawa hp? iya ada. dia mo pinjam buat telpon tim sar karena ada temannya yang jatuh dan kakinya patah tulang. setelah itu kami lanjut perjalanan menuju pos selanjutnya

pos 6 – pos 7 ( 50 menit )
kami tidak berhenti di pos 6 melainkan lanjut berjalan menuju pos 7 karena waktu sudah hampir magrib tinggal sedikit lagi dung , sekitar jam 6.30 kami sampai di pos 7. di pos 7 ini kami putuskan untuk ngecamp karena sudah sangat amat capek kami sudah berjalan seharian dari jam 8 pagi dari basecamp. setelah tenda selesai terpasang kami pun langsung masuk tenda untuk beristirahat sambil bikin kopi dan cemilan. malam begitu panjang dan sangat amat dingin. lihat jam menunjukkan pukul 12.15 awalnya saya tidur di paling pinggir, dalam bahasa jawa namanya rep-repen seperti ada bayangan anak kecil. setelah itu saya pindah ke tengah dengan menyuruh sidkon ganti posisi.

Pos 7 – pos 8 ( 30 menit )
pukul 05.00 kami melanjutkan perjalanan. jarak dari pos 7 ke pos 8 adalah yang terdekat di gunung slamet ini. kami cuma membawa kompor, gas, 3 carir dan cemilan beserta minum dan mie instan buat sarapan diatas. setengah jalan kami sudah keluar dari hutan lebat. dari sini kita bisa melihat tebing tebing gunung slamet. beruntung pagi itu cukup cerah sehingga menambah keindahan panorama alam. tidak lama kemudian kami sampai di pos 8. pos ini ditandai dengan plang di sebelah kiri jalur.

pos 8 – pos 9 ( 30 menit )
menuju pos terakhir yaitu pos 9 trek yang dilewati berupa tanah berumput serta pemandangan yang terbuka. dari sini kita bisa menyaksikan puncak gunung slamet yang berpasir dan berbatu. di sepanjang rute banyak tenda di lahan yang datar. mendirikan tenda di sekitar sini memang dekat dengan puncak, tapi yang perlu diperhatikan adalah angin yang berhembus akan lebih kencang karena tidak ada pepohonan secara langsung. beberapa menit berjalan kami sampai di pos 9 atau plawangan pukul 06.20.
pos 9 – puncak (2 jam )
pos 9 adalah pos terakhir yang ditandai dengan plang di kanan jalur. setelah pos 9 jalur sudah berubah yaitu berupa tanah merah berpasir dan bebatuan yang mudah longsor. pendaki harus ekstra hati hati karena kerikil kerikil dapat membuat jalan menjadi sangat licin. trek menuju puncak sama sekali tidak ada pohon, jadi terkadang pendaki harus berpegangan pada batu yang kuat. menurut kami trek ini adalah yang tersulit di gunung slamet. kami berjalan pelan dan hati hati menapaki rute ini. saat kami naik evakuasi korban yang jatuh sedang dibawa turun, tim sar memberitahu kami agar lewat jalur kiri karena dari team sar akan lewat jalur tengah. gak bisa nyala juga. tapi karena dia baik hati dia berusaha memperbaiki kompornya itu. saya udah kelaparan dan saya tanya lagi ke pendaki lainnya yang
setelah sampai puncak hal yang kami lakukan yaitu sarapan dulu. karena kalau perut kosong pastinya gagal fokus buat foto-foto. saat mulai memasak eh kompornya gak mau nyala alias kecil. setelah itu kami coba pinjam pendaki lain, tapi katanya langsung mau lintas. saya masih tidak patah semangat saya coba pinjam lagi ke pendaki lain yang berasal dari purwokerto namanya mas habib risnan dkk. setelah utak utik kompornya sekitar satu jam kemudian sampailah di pertigaan jika ke kanan arah puncak dan turun ke bawah menuju kawah. kami memilih ke kawah lebih dulu, dari sini aroma belerang cukup pekat. kami melihat kawah segoro wedi dengan bangga sekaligus takjub. dari kejauhan di sebelah barat tampak gunung ciremai berdiri dengan gagah dan di sisi timur tampak gunung sindoro dan sumbing beradu di atas awan.
kami lanjut menuju puncak tertinggi gunung slamet, puncak ini ditandai dengan plang puncak dan miniatur wayang bertuliskan “Mt Slamet 3428” . Rasa syukur spontan terucap akhirnya kami dapat menapaki atap tertinggi jawa tengah sekaligus gunung yang begitu megah ini. dari puncak tampak trek yang kami lewati menuju pos 9 terlihat cukup ngeri, hehe.

ini foto bareng teman-teman dari purwokerto.

team MKMA dari pageruyung kendal jawatengah

saat naik gunung jangan lupa bawa kertas dan spidol ya gaiis buat bikin tulisan untuk orang kalian sayangi….hihihihi

diatas awan.

Setelah puas keliling dipuncak gunung slamet, akhirnya pada jam 11.00 kita memutuskan untuk turun menuju pos 7 tempat tenda kita ngecamp. Sekitar jam 12.30 an kami sampai di pos 7, Cukup lama kami beristirahat sekitar satu jam an kita istirahat sambil makan dan minum. Sesudah itu kami melakukan perjalanan turun, perjalanan naik dan turun sangat berbeda sekali, singkat cerita pada jam 6.30 habis magrib kami sudah sampai di basecamp bambangan jadi total dari puncak sekitar 7 jam.
Pendakian kami dari berangkat sampai pulang yaitu 5 hari, kami berangkat hari sabtu siang dan sampai basecamp cuaca cuaca hujan dan sangat tidak memungkinkan untuk melakukan pendakian dimalam itu juga. jadi pada minggu paginya kami baru naik begitu pula dengan pulangnya kami sampai basecamp pada hari senin sore udah magrib ujan pula jadi kami putuskan untuk nginap lagi dibasecamp dan pulang pada hari selasa pagi.
Di pos bambangan ini harga makanan dibasecamp cukup murah dibandingkan dengan basecamp gunung-gunung lain. dibasecamp bambangan ini kebetulan kami menginap di basecamp nya Bu Rahma alias mamahnya Mas Didin.

jadi tempatnya bu rahma ini makan rames seharga 8 ribu dan teh hangatnya 2 ribu jadi cukup murah banget bukan.

Pada pendakian gunung Slamet ini cuma 5 orang dari team MKMA pageruyung yang bisa ikut, semoga pada pendakian selanjutnya anggota yang lain bisa ikut pendakian. Semakin banyak jumlah anggota maka akan semakin ramai. Insya Allah akhir tahun ini liburan natal dan tahun baru kami akan melakukan pendakian gunung selanjutnya.